Saturday, August 27, 2011

Junior John Rorimpandey


Junior Rorimpandey yang namanya melejit melalui program MasterChef Indonesia ini belakangan semakin sering dibicarakan dan diidolakan kaum hawa. Tak terkecuali saya tentunya. Mengikuti perkembangan sang Chef melalui fanpagenya di facebook, saya mendapat link ke artikel yang cukup menarik, berbobot, dan berbeda dengan artikel lain yang sering saya baca dan umumnya itu-itu saja. Hanya mengutip dari blog atau situs lain. Mungkin karena artikel ini bersumber langsung dari wawancara dengan Chef Juna, beritanya terkesan fresh dan masih hangat. Berikut ini link untuk salah satu artikel tersebut, memuat tentang bagaimana seorang MasterChef Juna berlaku romantis kepada kekasihnya, Caroline Ingrid Adita atau yang lebih akrab disapa dengan Aline Adita.

Thursday, August 11, 2011

Yang Tak Akan Terlupa

Berawal dari setetes niatan dan harapan

Berbekalkan tekad mencari segudang pengetahuan

Perkenalan singkat ini membuahkan persahabatan

Persahabatan untuk meraih sebuah impian

Segala tangis dan tawa telah kita lalui

3 tahun berlalu seolah hanya mimpi

Walau kelak kita tak dapat bersama lagi

Memori bersama tetap bersemi dalam simfoni

Suatu saat di malam yang sunyi

Kita kan menangisi sebuah ikatan suci

Tatkala memori lama di ungkap kembali

Air mata terukir di dasar hati

Karena di sanalah persahabatan bersemedi



Masa Orientasi Siswa, Hari Pertama.

Aku masuk ke kelas yang dingin. Penuh dengan orang asing. Semuanya benar-benar baru. Tapi tak apa. Aku akan bertahan. Karena ini pilihanku. Aku masih akan menempa diriku bersama semua yang ada disekelilingku. Aku harus berjuang. Aku harus kuat… bersama mereka.



Satu bulan berlalu sejak saat itu. Kelas yang semula dingin kini mulai menghangat. Kata dalam diri setiap anak mulai berubah. Dari “Aku” menjadi “Kami”. Ya, kami. Kami adalah satu kesatuan dalam kelas ini. Ikatan mulai terjalin. Mengisi setiap ruangan kosong dalam hati kami masing-masing. Tak ada lagi jarak. Tak ada lagi tembok pembatas pada diri kami. Kami menjadi satu.

Tak ada hal apapun yang berjalan mulus-mulus saja. Sejak saat kami bertemu pertama kali hingga saat ini telah banyak masalah yang kami hadapi. Tapi masalah itu tak dapat meruntuhkan ikatan yang mulai terjalin dalam diri kami. Kami menjadi semakin kuat. Kami semakin tau makna dari menjadi satu kesatuan. Makna menjadi teman sekelas. Makna menjadi seorang sahabat.



Ulangan harian, ujian, kenaikan kelas. Kami tetap bersama. Tanpa terasa telah banyak yang kami lalui. Senang bersama, sedih bersama, tertawa bersama, menangis bersama. Kami terus menjalani semuanya bersama. Tak dapat kupungkiri terkadang terjadi perpecahan dan perselisihan. Tapi pada akhirnya kami akan baik-baik saja. Karena kami tau apapun masalah yang kami hadapi, kami tak sendirian.



Tiga tahun berlalu sejak pertama kali kami bertemu. Amat sangat singkat rasanya. Seolah baru kemarin kami bertemu, berkenalan, dan mulai menjalin ikatan itu. Padahal aku tak menyangka kami akan menjadi sedekat ini. Aku tak pernah menyangka kami akan menjadi sahabat seperti ini. Berat rasanya apabila aku berpikir akan berpisah dengan mereka. Tapi tak ada yang dapat kulakukan. Mereka harus mengikuti jalan mereka masing-masing, begitu pula denganku. Jalan hidup kami tak sama lagi. Kami telah tiba pada persimpangan. Saatnya telah tiba bagi kami untuk memilih hidup masing-masing. Kami akan berpisah hari ini. Tapi kami akan tetap menjadi satu. Kami akan tetap menjadi satu saat kami mengingat semua yang telah kami lalui 3 tahun ini suatu saat nanti.

Ku pakai salah satu setelan terbaikku. Hari ini semuanya akan usai. Hari ini semua akan berakhir. Hari ini kami akan berpisah. Karena hari ini pesta berlangsung. Pesta perpisahan.

Bulir air mata mengalir perlahan di pipiku. Tak kusangka akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana kami benar-benar berpisah. Slide show di dinding ruangan menampilkan satu per satu wajah-wajah kami selama tiga tahun ini. Rasanya tiga tahun benar-benar waktu yang singkat. Aku kembali mengingat satu per satu hal yang pernah kami lalui bersama. Begitu banyak masalah, begitu banyak canda tawa. Aku yakin walau pun perpisahan ini begitu menyedihkan, kami semua tak akan pernah melupakan hari ini. Hingga suatu saat nanti, ketika kami bertemu kembali yang akan tercipta hanya senyuman dan canda tawa mengingat betapa bodohnya kami saat ini. Aku yakin kami tak akan pernah melupakan ini semua. Karena masa ini adalah masa yang tak akan terlupa. Kalian semua tak akan pernah kulupakan.



Sepuluh tahun berlalu, kubuka lagi album using yang teronggok di sudut gelap kamarku. Aku kini telah melupakan semuanya pada saat itu. Semua tangisan, semua canda tawa tanpa beban. Semua yang tanpa kepalsuan, semuanya tanpa tipuan. Ingin rasanya aku kembali ke masa itu. Bercanda, tertawa, semuanya kami lakukan bersama. Memoriku yang telah usang kuungkap kembali. Aku mengingat semua yang pernah kami lalui. Kawan, bagaimana keadaanmu disana? Bagaimana dengan jalan yang telah kau pilih? Aku merindukan kalian. Aku rindu sahabat sejatiku.



The End

Salam dari Surga

Jakarta, 25 April 2007. Kulihat gadis itu… lagi, telah lama aku memperhatikannya, ia selalu berdiri di tengah hujan, menawarkan payungnya, membuatku terpana. Rintik hujan menambah keelokan rupanya. Tak kusadari setiap kali kumemandangnya, rasa cinta ini semakin bertambah saja. Tapi seketika itu pula kesedihanku muncul tatkala kumengingatnya, aku tak mungkin memilikinya, bahkan aku tak berani menyapanya, dia terlalu indah untuk kumiliki.

Aku hanya dapat memandanginya dari apartemenku ini. Tak perduli berapa lama aku memandangnya, toh tak ada yang melarang, tak ada yang perduli lagi padaku. Tapi suatu hari aku tak mendapatinya disana lagi, bahkan sudah beberapa hari ini aku tak melihatnya. Setelah kutimbang-timbang, akhirnya kuputuskan untuk turun dan mencarinya. Setelah agak lama, akhirnya ada seseorang yang mengetahui keberadaan gadis itu.

Lama aku mencari, akhirnya aku menemukannya “Rumah gadis itu” dari tetangganya aku tahu bahwa dia tinggal sendirian dan ia ternyata bisu. Tapi dia sekarang belum kembali ke rumahnya. Aku heran juga, banyak yang memperhatikanku, aku tahu mengapa, mereka pasti heran dengan penampilanku, jujur… aku sangat sedih dengan cara mereka menatapku, tapi aku tak bisa apa-apa, mau apa lagi… .

Tak beberapa lama kemudian dia pulang, aku melihatnya di seberang jalan. Sekuat tenaga aku mendorong kursi rodaku, aku melupakan penyakitku. Tanpa kusadari, dari ujung jalan datang mobil yang melaju kencang, “BRUK!!!” aku terjatuh dari kursi rodaku, bersimbah darah. Pengemudi mobil itu telah lari tunggang langgang. Kemudian gadis cantik itu menghampiriku. Oh! Sudah kuduga itu adalah Ayu, Dewi Purnama Ayu, temanku selagi SMA, dulu kami sering bermain, bernyanyi, dan bercengkrama berdua. Tapi kini tidak mungkin lagi. Kulihat matanya penuh dengan air mata, air itu tumpah ke arahku, dia menangis! ‘Oh, janganlah kau menangis sayangku, kau tak boleh menangis karenaku!’ ingin kumemeluk dan mengusap air matanya, tapi ragaku tak mengizinkan.

Ketika aku sudah putus asa, aku mendengar sebuah suara, “M… ma… Hee… nn… dii…” aku terkejut, tapi tak mungkin tampak pada raut wajahku. Ayu bicara, dia bicara padaku. Oh! Dia menyebut namaku! Ya, namaku… namaku Hendri Kurniawan Putra, mas Hendri adalah panggilannya dulu untukku. Ah, aku bahkan hampir lupa namaku. Sungguh menyedihkan. Aku ingat sekarang … aku menderita penyakit ataksia, sakitku melumpuhkan diriku, sehingga orang membenciku dan tak mau lagi merawatku, meski aku selalu dikirimi uang untuk biaya perawatan, tapi toh aku juga tak bisa menikmatinya, ya seluruh ragaku tak dapat ku gerakkan lagi, seolah – olah aku tlah mati, hanya napaslah yang menandakan kehidupanku, tapi untung saja, aku masih mempunyai memori, kenangan, saat-saat yang indah… ah sudahlah, aku tak mungkin mendapatkannya lagi kini. Aku menderita penyakit itu dari umur 17 tahun, ketika seharusnya aku menikmati masa remajaku dengan tenang dan sejak saat itu, aku pun berhenti sekolah. Sekarang aku sudah berumur 21 tahun dan Ayu masih 19 tahun.

Ah, kurasakan napasku tersengal-sengal, tangisan Ayu semakin deras, ‘Oh Tuhan, aku belum mau mati Tuhan! aku belum mengungkapkan perasanku ini pada Ayu Tuhan! Tiba-tiba tak kurasakan lagi sakitku, bahkan tubuhku, aku tlah mati, oh senang rasanya telah terbebas dari semua ini, aku tak perlu lagi menjadi beban bagi keluargaku, bagi orang di sekitarku, aku bebas! Tapi … aku masih sedikit sedih karena aku tidak dapat menjalin cinta dengan Ayu, pujaan hatiku. Meski aku telah mengetahuinya dari dulu, sejak aku terkena penyakit ini, aku tahu bahwa itu tak mungkin untukku, Ayu… Oh… Ayu… .

Beberapa bulan kemudian Ayu pindah ke Jogja, ke rumah orang tuanya, dan menjadi pengantin orang lain, aku sedikit kecewa, tapi tak apa… asal Ayu bahagia, Ayu… aku akan selalu menjagamu dari surga… tenang saja.

Kulihat dari atas sini, kini Ayu memasuki kamar pengantin, tapi tanpa suaminya, ia menatap ke arah meja rias, ada pesan disitu:

“Ayu, mas selalu menjagamu dari surga. Semoga kau bahagia …”

Salam Hangat dari Surga,

Hendri

Mas Hendri mu …

Seketika itu juga ia menangis dan terus menangis, tapi aku tahu setelah ini dia pasti dia melupakanku perlahan-lahan. Hanya satu kalimat dariku untuknya “Salam Hangat Untukmu dari Surga”.