Thursday, August 11, 2011

Salam dari Surga

Jakarta, 25 April 2007. Kulihat gadis itu… lagi, telah lama aku memperhatikannya, ia selalu berdiri di tengah hujan, menawarkan payungnya, membuatku terpana. Rintik hujan menambah keelokan rupanya. Tak kusadari setiap kali kumemandangnya, rasa cinta ini semakin bertambah saja. Tapi seketika itu pula kesedihanku muncul tatkala kumengingatnya, aku tak mungkin memilikinya, bahkan aku tak berani menyapanya, dia terlalu indah untuk kumiliki.

Aku hanya dapat memandanginya dari apartemenku ini. Tak perduli berapa lama aku memandangnya, toh tak ada yang melarang, tak ada yang perduli lagi padaku. Tapi suatu hari aku tak mendapatinya disana lagi, bahkan sudah beberapa hari ini aku tak melihatnya. Setelah kutimbang-timbang, akhirnya kuputuskan untuk turun dan mencarinya. Setelah agak lama, akhirnya ada seseorang yang mengetahui keberadaan gadis itu.

Lama aku mencari, akhirnya aku menemukannya “Rumah gadis itu” dari tetangganya aku tahu bahwa dia tinggal sendirian dan ia ternyata bisu. Tapi dia sekarang belum kembali ke rumahnya. Aku heran juga, banyak yang memperhatikanku, aku tahu mengapa, mereka pasti heran dengan penampilanku, jujur… aku sangat sedih dengan cara mereka menatapku, tapi aku tak bisa apa-apa, mau apa lagi… .

Tak beberapa lama kemudian dia pulang, aku melihatnya di seberang jalan. Sekuat tenaga aku mendorong kursi rodaku, aku melupakan penyakitku. Tanpa kusadari, dari ujung jalan datang mobil yang melaju kencang, “BRUK!!!” aku terjatuh dari kursi rodaku, bersimbah darah. Pengemudi mobil itu telah lari tunggang langgang. Kemudian gadis cantik itu menghampiriku. Oh! Sudah kuduga itu adalah Ayu, Dewi Purnama Ayu, temanku selagi SMA, dulu kami sering bermain, bernyanyi, dan bercengkrama berdua. Tapi kini tidak mungkin lagi. Kulihat matanya penuh dengan air mata, air itu tumpah ke arahku, dia menangis! ‘Oh, janganlah kau menangis sayangku, kau tak boleh menangis karenaku!’ ingin kumemeluk dan mengusap air matanya, tapi ragaku tak mengizinkan.

Ketika aku sudah putus asa, aku mendengar sebuah suara, “M… ma… Hee… nn… dii…” aku terkejut, tapi tak mungkin tampak pada raut wajahku. Ayu bicara, dia bicara padaku. Oh! Dia menyebut namaku! Ya, namaku… namaku Hendri Kurniawan Putra, mas Hendri adalah panggilannya dulu untukku. Ah, aku bahkan hampir lupa namaku. Sungguh menyedihkan. Aku ingat sekarang … aku menderita penyakit ataksia, sakitku melumpuhkan diriku, sehingga orang membenciku dan tak mau lagi merawatku, meski aku selalu dikirimi uang untuk biaya perawatan, tapi toh aku juga tak bisa menikmatinya, ya seluruh ragaku tak dapat ku gerakkan lagi, seolah – olah aku tlah mati, hanya napaslah yang menandakan kehidupanku, tapi untung saja, aku masih mempunyai memori, kenangan, saat-saat yang indah… ah sudahlah, aku tak mungkin mendapatkannya lagi kini. Aku menderita penyakit itu dari umur 17 tahun, ketika seharusnya aku menikmati masa remajaku dengan tenang dan sejak saat itu, aku pun berhenti sekolah. Sekarang aku sudah berumur 21 tahun dan Ayu masih 19 tahun.

Ah, kurasakan napasku tersengal-sengal, tangisan Ayu semakin deras, ‘Oh Tuhan, aku belum mau mati Tuhan! aku belum mengungkapkan perasanku ini pada Ayu Tuhan! Tiba-tiba tak kurasakan lagi sakitku, bahkan tubuhku, aku tlah mati, oh senang rasanya telah terbebas dari semua ini, aku tak perlu lagi menjadi beban bagi keluargaku, bagi orang di sekitarku, aku bebas! Tapi … aku masih sedikit sedih karena aku tidak dapat menjalin cinta dengan Ayu, pujaan hatiku. Meski aku telah mengetahuinya dari dulu, sejak aku terkena penyakit ini, aku tahu bahwa itu tak mungkin untukku, Ayu… Oh… Ayu… .

Beberapa bulan kemudian Ayu pindah ke Jogja, ke rumah orang tuanya, dan menjadi pengantin orang lain, aku sedikit kecewa, tapi tak apa… asal Ayu bahagia, Ayu… aku akan selalu menjagamu dari surga… tenang saja.

Kulihat dari atas sini, kini Ayu memasuki kamar pengantin, tapi tanpa suaminya, ia menatap ke arah meja rias, ada pesan disitu:

“Ayu, mas selalu menjagamu dari surga. Semoga kau bahagia …”

Salam Hangat dari Surga,

Hendri

Mas Hendri mu …

Seketika itu juga ia menangis dan terus menangis, tapi aku tahu setelah ini dia pasti dia melupakanku perlahan-lahan. Hanya satu kalimat dariku untuknya “Salam Hangat Untukmu dari Surga”.

No comments: